Anarko-Sindikalisme FAQ
Di Indonesia, anarkis seringkali di salah artikan. Kebanyakan masyarakat menganggap bahwa anarkis adalah tindakan kekerasan, pengrusakan bahkan kerusuhan besar-besaran. Padahal, jika ditelisik lebih jauh, seperti Alexander Berkman, anarkisme adalah kebalikan itu semua. Anarkisme berarti kita harus bebas.
Padahal, anarkisme sendiri adalah sebuah gerakan politik dengan spektrum perjuangan yang sangat luas. Maksudnya, banyak gerakan anarkisme yang berfokus pada berbagai jenis isu. Mulai dari isu pekerja sampai isu lingkungan.
Belakangan ini, di era aksi massa besar-besaran dan konflik agraria di berbagai tempat, media sampai pihak kepolisian dan organisasi masyarakat mulai melakukan fear mongering dengan menyebut anarko-sindikalisme.
Sejarah Singkat Anarko Sindikalisme
Sebelum jauh masuk pada artikel FAQ Anarko-Sindikalisme ini, kita akan sedikit berefleksi pada sejarah gerakan satu ini. Sejarah mengatakan bahwa Anarko Sindikalisme merupakan strategi revolusioner utama dalam sejarah anarkisme.
Organisasi internasional tertua di dunia adalah International Worker Association (IWA) yang mempertahankan Anarko Sindikalisme sebagai strategi revolusioner mereka. Sindikalisme bahkan mencapai kesuksesan politik terbesarnya dalam bentuk revolusi sosial yang terjadi selama Perang Saudara Spanyol tahun 1936-1939.
Baik, dalam artikel ini, kita akan mulai menjawab pertanyaan alias Q&A mengenai Anarko Sindikalisme
Pertanyaan dan Jawaban Mengenai Anarko-Sindikalisme untuk Indonesia
Pertanyaan: Apa itu Anarko-Sindikalisme? Apa bedanya dengan Anarkisme? dan kenapa disebut Sindikalisme?
Jawaban: Anarko-Sindikalisme itu bukan ide atau slogan. Ini adalah strategi perjuangan dari gerakan anarkis yang berfokus pada kelas pekerja. Dalam pendekatan ini, sindikalisme tidak hanya menuntut kenaikan UMR atau gaji, tapi kesuksesan saat para pekerja dapat mengorganisir diri sendiri di tempat kerja.
Jika anarkisme adalah filosofi politik umum, maka anarko-sindikalisme adalah strategi revolusioner dengan mengorganisir gerakan buruh, melakukan aksi langsung dan membangun struktur sosial mandiri.
Lalu kenapa disebut sindikalisme? Sindikalisme sendiri diambil dari kata sydicat yang berarti serikat pekerja. Artinya, anarko-sindikalisme adalah strategi revolusioner melalui serikat pekerja.
Pertanyaan: Apa yang perbedaan tujuan gerakan anarko sindikalisme dengan serikat buruh lain?
Jawaban: Dalam praktiknya, anarko-sindikalisme ingin pekerja dapat mengorganisir diri di tempat kerja, bersatu dalam federasi luas tanpa hierarki paksa, membentuk struktur sosial baru yang dikendalikan mereka sendiri dengan melakukan aksi langsung tanpa adanya elit serikat.
Pertanyaan: Bagaimana cara kerja sistem anarko-sindikalisme di kehidupan nyata? Jika dalam sistem ini tidak ada hierarki bagaimana aturan dijaga? Jika ada konflik bagaimana cara mengatasinya?
Jawaban: Dalam anarko-sindikalisme, unit dasarnya bukan pemerintah atau negara tapi organisasi pekerja di tempat kerja atau komunitas lokal. Bayangkan ada pabrik, rumah sakit dan moda transportasi. Nah setiap tempat kerja itu dikelola oleh mereka yang bekerja di sana. Keputusan diambil melalui rapat anggota dan delegasi dipilih untuk koordinasi.
Delegasi ini bisa dipilih, diberi mandat jelas atau ditarik kapan saja jika melanggar keputusan bersama. Dengan sistem ini, produksi tetap jalan, rumah sakit tetap buka dan transportasi tetap jalan. Bedanya, tidak ada pemilik pribadi.
Pertanyaan: Kalau nggak ada hierarki, pemerintah, hukum atau polisi bagaimana aturan dijaga?
Jawaban: Dalam sistem anarko sindikalisme, aturan dibuat secara kolektif, disepakati bersama berlaku karena partisipasi dan bukan karena paksaan. Disiplin ini berjalan bukan oleh polisi tapi mekamisme komunitas dan organisasi pekerja sendiri.
Pertanyaan: Bagaimana kalau ada konflik? Bagaimana cara mengatasinya?
Jawaban: Dalam gerakan anarko sindikalisme, konflik umumnya muncul dalam 3 bentuk yakni konflik individu, konflik antar kolektif kerja sampai tindakan yang merugikan satu pihak. Untuk mengatasi hal ini, ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan dan biasanya berbasis mediasi komunitas, dewan penyelesaian konflik sampai restorative justice.
Pertanyaan: Apakah anarko-sindikalisme pernah berhasil di suatu tempat? menerapkannya? Lalu apakah sampai sekarang gerakan ini masih ada?
Jawaban: Seperti sudah dibahas sedikit di awal, pada Juli 1936, kudeta militer terjadi di Spanyol dan Perang Saudara Pecah. Kota-kota Industri seperti Barcelona diambil alih serikat pekerja terutama oleh CNT Confederación Nacional del Trabajo), serikat anarko-sindikalis terbesar saat itu.
Selain itu, ada juga contoh di Ukraina pada tahun 1918-1921 di bawah gerakan Makhno yang menerapkan bentuk organisasi bebas di wilayah pedesaan selama perang sipil Rusia. Pada awal abad ke-20 serikat anarko sindikalis sangat kuat dan memimpin banyak pemogokan umum. Di era sekarang, gerakan anarko-sindikalisme masih aktif beberapa di antaranya seperti CNT (Spanyol) sampai IWA-AIT (federasi internasional anarko-sindikalis) yang berisi organisasi-organisasi anarko sindikalis di berbagai negara.
Pertanyaan: Apakah anarko-sindikalisme itu tukang bakar-bakaran dan suka chaos? Dan apakah gerakan anarko-sindikalisme ini ada hubungannya dengan PKI? Lalu, apakah anarko-sindikalisme itu anti agama?
Jawaban: Seperti sudah dijabarkan sebelumnya, anarko-sindikalisme adalah strategi politik. Jika ada aksi massa lalu terjadi kerusuhan atau chaos dan terjadi pembakaran, itu bisa dilakukan siapa saja, tapi memang gerakan anarko-sindikalisme selalu jadi kambing hitam. Untuk masalah PKI, anarko-sindikalisme tidak ada hubungannya dengan PKI bahkan gerakan anarko-sindikalisme bertentangan dengan ide PKI.
Gerakan anarko-sindikalisme menekankan kebebasan dan kesetaraan. Jadi, narasi anarko-sindikalis yang menyebut anti-agama hanyalah upaya pemerintah atau organisasi di bawah pemerintah melakukan propaganda yang menyebut gerakan anarko-sindikalisme sebagai gerakan anti agama. Pada kenyataannya, setiap anggota di organisasi anarko-sindikalisme bebas beragama sesuai kepercayaan masing-masing.
Pertanyaan: Kalau sistem anarko-sindikalisme diterapkan apakah upah pekerja jadi lebih tinggi dan apakah sistem ini menjamin hidup layak? Bagaimana sistem ini melindungi pekerja dari eksploitasi?
Jika anarko-sindikalisme diterapkan, pertanyaannya bukan sekadar apakah upah Anda lebih tinggi, tetapi ke mana nilai kerja Anda mengalir. Dalam sistem ini tidak ada pemilik modal yang mengambil keuntungan dari selisih kerja Anda. Hasil produksi kembali ke kolektif pekerja.
Itu bisa berarti pendapatan yang lebih setara, biaya hidup yang lebih ringan karena layanan dasar dikelola bersama, dan tidak adanya tekanan profit yang memotong kesejahteraan. Jadi mungkin angka di slip gaji tidak selalu dramatis naik, tetapi daya hidup, akses terhadap kebutuhan, berpotensi lebih terjamin.
Apakah sistem ini menjamin hidup layak? Ia dirancang untuk itu, karena produksi diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sosial, bukan mengejar keuntungan. Selama masyarakat membutuhkan pangan, perumahan, kesehatan, dan pendidikan, sistem mengorganisir produksi untuk memenuhinya, bukan menghentikannya demi laba.
Bagaimana melindungi dari eksploitasi? Dengan menghapus sumbernya. Eksploitasi terjadi ketika satu pihak memiliki alat produksi dan pihak lain hanya menjual tenaga. Dalam anarko-sindikalisme, pekerja mengelola tempat kerjanya sendiri melalui keputusan kolektif. Tidak ada bos yang bisa sepihak memotong upah atau memecat demi efisiensi saham. Perlindungan bukan datang dari belas kasihan pemilik, melainkan dari kontrol langsung atas kerja dan hasilnya.
Pertanyaan: Apakah bos dan manager masih ada jika suatu perusahaan menerapkan sistem kolektif anarko-sindikalisme? Kalau semua pekerja setara siapa yang mengambil keputusan teknis? Dan apakah pekerja dapat memilih atau mengganti koordinator kerja?
Jika sebuah perusahaan benar-benar menerapkan prinsip anarko-sindikalisme, maka posisi “bos” dalam arti pemilik yang punya kuasa mutlak atas keputusan dan keuntungan tidak lagi ada. Tidak ada satu orang yang berdiri di atas struktur sebagai otoritas permanen. Namun itu tidak berarti organisasi menjadi tanpa peran atau tanpa koordinasi.
Manajer dalam bentuk lama, yang memerintah biasa mengawasi, dan menentukan arah demi kepentingan pemilik akan berubah fungsi. Yang ada adalah koordinator atau delegasi, bukan atasan. Mereka tidak memiliki kekuasaan karena jabatan, tetapi karena mandat yang diberikan oleh kolektif pekerja. Perannya bersifat teknis dan administratif, bukan hierarki kekuasaan.
Pertanyaan: Lalu siapa yang mengambil keputusan teknis dalam sistem kerja anarko-sindikalisme?
Keputusan strategis seperti arah produksi, pembagian kerja, kebijakan umum akan diputuskan bersama dalam forum pekerja. Tetapi keputusan teknis sehari-hari tetap dipegang oleh mereka yang memiliki keahlian. Seorang insinyur tetap memimpin aspek teknis mesin karena kompetensinya, seorang dokter tetap memimpin prosedur medis karena keahliannya. Perbedaannya adalah: keahlian tidak berubah menjadi otoritas politik permanen.
Dalam sistem ini, kompetensi dihormati, tetapi tidak disakralkan menjadi kekuasaan.
Dan pekerja dapat memilih dan mengganti koordinator kerja. Mandat bersifat terbatas dan dapat dicabut. Jika seorang koordinator menyalahgunakan posisi, tidak transparan, atau tidak menjalankan keputusan kolektif, ia bisa diganti melalui mekanisme yang telah disepakati bersama. Tidak perlu menunggu kontrak habis atau keputusan pemilik.
Intinya, anarko-sindikalisme tidak menghapus organisasi. Ia menghapus dominasi. Struktur tetap ada, tetapi kekuasaan tidak terkonsentrasi secara permanen. Koordinasi tetap berjalan, tetapi legitimasi datang dari bawah, bukan dari kepemilikan atau jabatan.
Nah itulah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan umum yang biasa ditanyakan oleh masyarakat Indonesia secara umum, para pekerja sampai mahasiswa yang ingin mengetahui lebih dalam mengenai anarko-sindikalisme. Semoga artikel ini sedikit menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada. Jika ada kritik dan saran, pada kontak yang tertera di website ini atau hubungi kami melalui media sosial.