Sebastian Manuputty dan Kebohongan Keselamatan Kerja di Indonesia

Sebastian Manuputty dan Kebohongan Keselamatan Kerja di Indonesia

Di hampir seluruh penjuru dunia, keselamatan kerja adalah hasil dari darah, mogok massal, dan pemberontakan kelas pekerja terhadap mesin kapital. Tidak pernah ia lahir dari “itikad baik” pengusaha. Di Indonesi, ini  tidak berbeda tapi jauh lebih munafik.

Pada sore itu, 1 Mei 2015, perayaan Hari Buruh Internasional di Stadion Gelora Bung Karno mulai mereda. Massa masih berkumpul. Spanduk belum seluruhnya diturunkan. Di antara teriakan tuntutan dan sisa euforia, tak banyak yang menyadari bahwa sebuah peristiwa tak terbayangkan akan terjadi sekitar pukul 16.50 WIB.

Seorang buruh bernama Sebastian Manuputty berada di atap stadion.Beberapa menit kemudian, tubuhnya terbakar dan ia melompat dari atap stadion. Semua orang mematung, bahkan pihak berwajib tidak dapat berbuat banyak saat peristiwa itu terjadi.

Sebastian, Seorang Kelas Pekerja dari Cibitung

Sebastian Manuputty bekerja di PT Alam Tirta Segar, produsen air minum Ale-Ale, yang berlokasi di kawasan industri MM2100, Cibitung, Kabupaten Bekasi. Ia menerima upah di bawah Rp3 juta per bulan.

angka yang umum bagi buruh manufaktur saat itu, namun jauh dari kata cukup. Jika dibandingkan 3 juta per bulan sama dengan 177,8 dollar Amerika Serikat hari ini. Ini tentu jauh lebih dari pada kurang, apalagi dengan narasi “kerja, kerja, kerja” yang digaungkan Presiden Joko Widodo saat itu.

Sebastian bukan figur publik. Bukan pemimpin besar atau elit serikat. Di pabrik, ia dikenal sebagai pekerja yang aktif di serikat buruh, tergabung dalam Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI). Fokus perjuangannya tidak abstrak: keselamatan kerja.

Rekan-rekannya mengenalnya sebagai orang yang peduli. Ia sering membantu kawan yang kesulitan, bahkan meminjamkan uang. Di luar jam kerja, Sebastian menjalankan usaha sablon kecil untuk menambah penghasilan keluarga. Ia telah berkeluarga dan dikenal dekat dengan istrinya.

Tak ada catatan konflik personal antara Sebastian dan rekan kerjanya. Ketegangan justru muncul di tempat yang biasa: antara buruh yang menuntut keselamatan dan manajemen yang menuntut produksi.

Kecelakaan yang Terus Berulang

Sebelum peristiwa di GBK, Sebastian sedang menangani kasus kecelakaan kerja di perusahaannya. Sebagai aktivis serikat, ia aktif mendampingi rekan-rekannya yang mengalami kecelakaan di tempat kerja. kasus yang, menurut catatan internal, bukan kejadian tunggal.

Isu Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) menjadi medan utama perjuangannya. Ia dikenal vokal, sebuah sikap yang kerap berujung pada jarak dengan pihak manajemen. Pihak perusahaan, di kemudian hari, membantah adanya tekanan atau konflik. Semua disebut berjalan sesuai prosedur.

Namun bagi buruh di lantai produksi, prosedur sering kali berarti hal lain: alat pengaman yang minim, jam kerja panjang, dan risiko yang dianggap wajar.

Hari Buruh yang Berubah

May Day 2015 berlangsung seperti tahun-tahun sebelumnya. Aksi massa, orasi, tuntutan upah dan perlindungan kerja. Tak ada tanda bahwa hari itu akan dikenang sebagai salah satu momen paling kelam dalam sejarah gerakan buruh Indonesia.

Sebelum aksinya, Sebastian menulis pesan terakhir di akun Facebook-nya:

“Selamat berjuang sahabat buruh! Semampuku kan berbuat apapun agar Anda, kita dan mereka bisa terbuka matanya, telinganya dan hatinya untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Tak lama berselang, ia menulis pesan lain:

“Lanjutkan perjuangan kaum buruh, tani dan nelayan. Aku bahagia melakukannya.”

Tak ada kata dendam. Tak ada tuduhan personal. Yang ada hanya seruan agar perjuangan diteruskan. Setelah itu, ia melakukan tindakan yang membuat publik terdiam tak berkata-kata..

Catatan yang Tertinggal

Sebastian tidak hanya meninggalkan pesan daring. Ia juga meninggalkan catatan tertulis yang berisi berbagai persoalan keselamatan kerja di perusahaannya, serta kritik terhadap kelalaian pengawasan K3 oleh pemerintah. Catatan itu memuat detail tentang kondisi kerja yang, menurutnya, membahayakan buruh.

Catatan tersebut kemudian dibaca sebagai bagian penting untuk memahami konteks peristiwa: bahwa tindakan Sebastian tidak muncul dari ruang hampa, melainkan dari akumulasi pengalaman dan kekecewaan panjang.

Setelah Api Padam

Kematian Sebastian mengguncang gerakan buruh. Solidaritas datang dari berbagai serikat dan organisasi. Namanya disebut dalam aksi-aksi. Kisahnya diceritakan ulang di pabrik-pabrik dan sekretariat serikat.

Pemerintah dan perusahaan menyampaikan duka cita. Isu keselamatan kerja kembali masuk ke ruang diskusi publik. Regulasi dibicarakan. Evaluasi dijanjikan.

Untuk menghormati Sebastian, Federasi Serikat Buruh Metal Indonesia mengabadikan namanya dalam sebuah yayasan yang berfokus pada Keselamatan dan Kesehatan Kerja. sebuah pengakuan bahwa perjuangannya tidak berhenti pada peristiwa tragis itu.

Yang Kini Tersisa

Bagi banyak buruh, Sebastian Manuputty bukan sekadar nama. Ia adalah pengingat bahwa di balik statistik kecelakaan kerja, ada manusia dengan keluarga, harapan, dan kehidupan yang rapuh di hadapan mesin dan target produksi.

Keselamatan kerja di Indonesia sering kali baru dibicarakan setelah tragedi terjadi. Kasus Sebastian menjadi titik balik yang pahit: sebuah momen ketika tubuh seorang buruh memaksa negara dan publik untuk melihat apa yang selama ini diabaikan.

Hingga hari ini, pertanyaan itu masih menggantung: mengapa keselamatan harus selalu datang setelah kehilangan?

Sebastian telah tiada. Namun catatan, pesan, dan jejak perjuangannya tetap hidup. Salam poerjuangan, hidup rakyat pekerja!.